Terkadang kita selalu tertipu oleh diri kita sendiri, tanpa pernah kita sadari ternyata ada kesombongan, keangkuhan, dan perasaan yang merasa paling hebat, paling pintar dan paling benar.

Dengan berangkat dari perasaan tersebut mulai kita menyadarkan orang-orang disekeliling kita, mulai kita mengurui dengan ilmu yang kita peroleh, mulai kita menghakimi kebiasaan mana yang benar dan mana yang salah, namun kita tidak pernah sadar apakah kita telah mengamalkan apa yang kita sampaikan tersebut, apakah kita sudah mencerminkan dengan apa yang kita teriakkan setiap hari dengan bangga dan dada terusung ?

Ada sebuah cerita yang sangat bagus untuk diambil hikmahnya, cerita yang selalu disampaikan Rumi dalam kehidupannya. Cerita tentang Ahli Bahasa dan Nahkoda kapal.

“Seorang ahli bahasa naik kesebuah kapal, maka seluruh penumpang kapal tertegun dengan gayanya, dengan sopan santunnya, dengan kemegahan jalanya, maka dia mulai memberi pelajaran tentang tata bahasa, tentang segala hal, tentang bagaimana harus bersikap, bagaimana cara-cara berenang dilautan, cara mengarungi bahtera kehidupan, intinya Sang Ahli bahasa tersebut menjadi orang kehormatan dikapal tersebut dikarenakan kepintaran dan ilmunya.

Tanpa sengaja sang ahli bahasa melihat nahkoda kapal yang dari awal tidak pernah dekat dengan dirinya, maka dengan perasaan penasaran sang ahli bahasa mendekati sang nahkoda.

“Kenapa kamu tidak pernah mendengar saya bicara selama ini ? apakah kamu pernah belajar tata bahasa, pernahkah kamu belajar bagai mana mengemudikan kapal, pernahkah kamu belajar tentang bagaimana cara berenang, pernahkah kamu belajar bagaimana bersopan santun ? Kata sang ahli bahasa dengan cepat.

“Tidak” kata nahkoda tersebut, aku terlalu sibuk untuk mengatur layar, agar kapal ini tidak tenggelam.

“Kalau begitu, berarti SEPARUH dari hidupmu tersia-siakan” kata Ahli bahasa.

Kemudian terjadilah badai yang amat dahsyatnya sehingga kapal terbanting-banting. Nahkoda tersebut berpaling ke arah si ahli bahasa:

”Pernahkah kamu berenang ? Pernahkah kamu mempraktekkan apa yang kamu ajarkan ?

”Tidak” sahut si ahli bahasa.

”Kalau begitu, berarti SELURUH hidupmu akan sia-sia” sang Nahkoda menjawab.

Nah……dari cerita ini kiranya dapat lha kita ambil hikmahnya, dapatlah kita melihat diri kita sendiri, apakah kita hanya seorang ahli bahasa yang pada akhirnya seluruh hidup kita sia-sia ????