Jangan lha kita menilai seseorang dari apa dan bagaimana dia berprilaku sehari-hari, kerna kita tidak punya kuasa untuk itu, kerna hanya guru yang bisa menilai muridnya dan hanya Tuhan yang bisa menilai Hambanya.

Ada seorang tokoh yang bernama Mulla Nashruddin Hoja, lahir pada tahun 1227 M ( 605 H ) di Timur tengah, sangat mungkin dengan apa yang disebut sekarang dengan Iran. Dia sering berkunjung kedaerah-daerah sekitarnya dengan mengendarai keledainya yang terkenal itu yang akhirnya mengantarkan dia bermukim di Turki. Masa mudanya bersamaan dengan ekspansi kekaisaran Mongol ke Asia dan masa tuanya bersamaan dengan penaklukan TImur Lenk. Mulla sekolah di Konya Turki dan memperoleh gelar keagamaan dan dia ditunjuk untuk menggantikan ayahnya yang wafat sebagai Qadhi ( Hakim ), namun Mulla melepaskan jabataan tersebut.

Sejak itu, bersama dengan kekacauan yang melanda Asia Abad Pertengahan, Mulla mulai menapak jalan seperti orang bodoh ( Si Tolol ) yang menuju kepada kearifan. Menghadapi keadaan pada zamanya, dia selalu tersenyum ironis dan tenang serta mengambil pendekatan yang sangat luwes dalam mengartikan kehidupan. Mulla mempunya seorang istri dan rumah tempat dia tinggal namun dia selalu berpergian, meskipun memiliki pandangan pisikologis yang tajam namun dia juga memiliki keluguan seperti seorang anak kecil. Maka, bukannya dia bersenang-senang dimenara gading atau menerima jabatan menjadi Hakim serta Mentri pendidikan, malah dia memilih jalan hidup bebas seperti sufi-sufi atau orang-orang Tao yang Arif, maka ada sebuah Syair untuk dirinya yang sangat terkenal :

Bila bergerak, seperti air.

Bila Diam, seperti cermin.

Bila menjawab, seperti gema.

Lembut, seakan tak ada.

Mulla bukan hanya dapat lepas dari ancaman-ancaman para penguasa yang lalim, namun kabarnya dia juga membantu menyadarkan Timur Lenk sehingga pada masa itu banyak jiwa dan kota yang terselamatkan dari kehancuran.

Bahkan kabarnya dia juga mempunya hubungan yang sangat berpengaruh dengan Raja Harun Al-Rasyid, walaupun kesannya Mulla seperti orang Tolol namun secara diam-diam Harun Al-Rasyid sering minta pendapat pada dirinya.

Sering orang beranggapan jawaban dari Mulla adalah sungguh-sungguh atau hanya bercanda yang tidak ada artinya sama sekali. Sehingga sering orang binggung apakah dia benar-benar Arif atau benar-benar Tolol. Kemungkinan juga dia memang menciptakan kesan ini, kerna lebih menguntungkan daripada dianggap gila total atau arif benar.

Hal ini disebabkan karena dia menolak dijadikan Pejabat didaerahnya, maka dia memilih bersifat seperti orang setengah gila.

Lebih jauh lagi, sebuah cara hidup atau bagaimana kita menjalani kehidupan walaupun sangat bertolak belakang dengan norma-norma yang ada, Walapun kesannya sangat dangkal dan bahkan kelihatan Bodoh, namun kita tidak pernah sadar bahwa orang tersebut mungkin adalah kekasih NYA, seperti sebuah kisah yang sangat termasyur dari Rumi dalam Matsnawinya :

Seorang lelaki yang dilanda kehausan duduk diatas dinding yang tinggi, seraya melemparkan batu bata ke sungai dibawahnya.

Maka orang bertanya ”Bukankah kamu membutuhkan sekali sungai itu ? Mengapa kamu lempar batu bata itu kesana ?

Diapun menjawab ” Dengan mendengar suara ceburan batu tersebut saya sudah merasa amat senang dengan kenyataan bahwa ada Air didekat saya, namun juga air itu semakin dekat dengan saya dari bata demi bata yang saya lemparkan kebawah untuk pijakan saya turun.

Perlu diperhatikan mungkin tindakan tersebut bagi kebanyakan orang adalah sebuah tindakan yang aneh, namun dalam hal kisah-kisah para sufi, memang banyak bata dan lumpur, apakah itu menyangkut kesombongan atau sikap menipu diri sendiri yang dibuang dari bangunan ego kolektif

Nah…dari sini kita sering sekali menilai orang dengan apa yang kelihatannya namun tidak dengan apa makna yang tersembunyi dibaliknya, yang lebih berbahaya lagi kita langsung menghukum atau memfonis kalau orang ini salah yang ini benar. Kita terkunci dengan norma-norma yang ada, yang terkadang tidak ada nilai rujukan yang benar untuk hal tersebut. Selalu merasa lebih pintar dan lebih baik dari yang lainnya, namun kita ternyata tidak pernah tahu kalau orang tersebut bisa saja orang yang terpilih.

Maka seperti yang dikatan Malaikat dalam kisah Aththar kepada seorang wali ”Wahai orang yang terpilih, kini telah kamu campakkan semua yang kamu miliki, maka tetaplah disini di tempatmu saat ini. Kini kamu tidak perlu lagi mencari TUHAN mu sebab DIA sendiri yang akan datang kepada mu”.